Bintang Samudera Sepakbola Somalia (Part 1)
![]() |
| Stadion Mogadishu ketika terisi penuh oleh penonton |
Somalia, negara bekas jajahan Italia dan Inggris yang berada di timur benua Afrika, lebih tepatnya di daerah Tanduk Afrika yang berbatasan langsung dengan Kenya di selatan, Ethiopia di sebelah barat, dan Jibuti di sebelah utara. Somalia melewati banyak dinamika sejak jaman kemerdekaan, mulai dari masa awal kemerdekaan, pemerintahan Siad Barre, perang Ogaden, perang sipil paska-keruntuhan pemerintahan Barre, transisi pemerintahan, sampai dengan bangkitnya sendi perekenonomian Somalia yang dimulai perlahan dari pusat kota Mogadishu, ibukota Somalia ditengah ketidakpastian politik dan stabilitas negara.
Sepakbola adalah salah satu olahraga favorit masyarakat Somalia disamping atletik. Negara tanduk Afrika ini merupakan salah satu negara yang memiliki potensi jangka panjang dalam pengembangan talenta sepakbola setempat harus menghadapi berbagai tantangan yang juga mempengaruhi hal tersebut. Mulai dari bayang-bayang ketidakstabilan, tribalisme, sampai dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan federasi sepakbola setempat. Hal ini membuktikan bahwa sepakbola bisa menjadi sebuah "pelita" ditengah ketidakpastian yang ada di negara tersebut, selagi dapat dikelola dengan baik dari hulu ke hilirnya.
Dekade Pertama di Level Kompetitif
![]() |
| Hassan Afif (dilingkari lingkaran merah) |
Sejak tahun 1972, tepatnya dua tahun setelah naiknya kepemimpinan Siad Barre untuk Somalia, "Bintang Samudera" mulai unjuk gigi di kompetisi tingkat Afrika Timur dan Tengah, sampai dengan tingkat Pan-Arab. Mereka memulai segalanya pada era ini dengan melaksanakan uji coba melawan Negeri Tirai Bambu, Tiongkok di rumah mereka sendiri. Pertandingan tersebut dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 1972 dan berakhir dengan skor 1-3 untuk tim tamu. Sepuluh bulan setelah partai tersebut, tepatnya pada tanggal 14 sampai dengan 30 Nopember 1972, Somalia berpartisipasi dalam kualifikasi cabang sepakbola zona Afrika Timur untuk All-Africa Games yang dilaksanakan pada tahun 1973. Somalia tergabung bersama Uganda, Kenya, dan Mesir selaku tuan rumah grup. Somalia meraih kemenangan tipis 1-0 atas Uganda, hasil imbang 2-2 melawan Kenya, dan menelan kekalahan atas tuan rumah, Mesir dengan skor 2-4.
Setahun berikutnya, Somalia kembali bersua dengan Tiongkok di Beijing dengan kemenangan tuan rumah 7-2, lalu berpartisipasi dalam babak kualifikasi Piala Afrika 1974 lewat babak pendahuluan melawan Uganda. Somalia berhasil menang 2-0 di Mogadishu, namun takluk dengan skor 5-0 di Kampala. Di tahun yang sama, "Bintang Samudera" berpartisipasi pada ajang Piala CECAFA untuk pertama kalinya bersama dengan Uganda dan Tim B Zambia pada Grup A. Somalia takluk atas kedua lawan tersebut dan hanya mencetak dua gol dari dua pertandingan. Setahun setelahnya, Piala CECAFA digelar kembali dan Somalia ikut berpartisipasi untuk kedua kalinya. Somalia berhasil meraih poin perdananya setelah bermain imbang dengan Uganda, tetapi takluk atas Zanzibar dengan skor tipis 2-1.
Kemenangan lainnya diraih pada leg kedua babak pendahuluan kualifikasi Piala Afrika 1976 atas Burundi di depan publik Stade de Intwari di Bujumbura dengan skor 0-1 walaupun tidak menyelamatkan Somalia dari kekalahan agregat 2-1. Kemenangan ini merupakan kemenangan pertama atas negara lain selain Uganda yang sudah dua kali dikalahkan Somalia dalam waktu empat tahun. Fakta lainnya, tim nasional Somalia saat itu sempat diperkuat oleh ayah dari salah satu bintang tim nasional Qatar yang mencetak trigol lewat titik putih melawan Yordania pada final Piala Asia 2023, Akram Afif, yaitu Hassan Afif. Setelah itu, Somalia mengalami paceklik poin sampai akhirnya menang tipis atas Zanzibar dan imbang 1-1 atas Uganda pada tiga hari setelahnya. Pada partisipasinya yang ketiga di ajang Piala CECAFA tahun 1978, lagi dan lagi Somalia hanya mendapatkan satu poin. Hasil ini melalui pertandingan yang berakhir imbang 2-2 atas salah satu "rival" mereka yaitu Uganda.
Kejutan Baru dan "Last Dance in Mogadishu"
![]() |
Tim Nasional Sepakbola Somalia, circa 1980 |
Puing Peperangan dan Perginya Para Pemimpi
![]() |
Stadion Mogadishu pada masa peperangan |
![]() |
| Mohamud dan Ahmed (kiri ke kanan) |
Setelah runtuhnya pemerintahan Siad Barre di Somalia, seiring dengan runtuhnya Blok Timur pada masa itu, membawa ketidakpastian yang mendalam di negara tersebut, apalagi peperangan mulai pecah dan semakin sulit karena perlawanan bagian utara. Bunyi senapan, puing-uing berterbangan, dan kehancuran bangunan mulai menghentikan denyut kota Mogadishu. Hal ini juga membuat banyak masyarakat setempat yang melarikan diri dari negaranya, termasuk mereka yang memiliki mimpi besar dalam menekuni Sepakbola. Biasanya mereka melarikan diri ke negara tetangga seperti Kenya, Ethiopia, dan Jibuti. Sedangkan untuk tujuan luar Afrika sendiri, biasanya mereka melarikan diri ke Amerika Serikat, Skandinavia, Britania Raya, sampai dengan Timur Tengah. Mereka yang melakukannya memiliki tujuan yaitu mencari tempat yang aman dan bisa terjamin masa depannya, walaupun caranya ada yang legal dan ada juga yang lewat jalur ilegal.
Beberapa pemain tim nasional Somalia yang dikenal pada era ini yang memiliki latar belakang dari keluarga yang mencari tempat aman di tengah peperangan yang dialami negara asalnya. Sebagai contoh, kakak beradik Ahmed Ali dan Mohamud Ali, dua bersaudara yang menjadi tulang punggung lini belakang Tim Nasional Somalia. Ahmed lahir di Mogadishu pada tahun 1990, sedangkan Mohamud lahir di Zeist, Belanda pada tahun 1994. Ahmed lebih dulu mengawali debutnya bersama Bintang Samudera pada tahun 2012 untuk Piala CECAFA 2012 bersama dengan beberapa pemain "foreign-based" lainnya, seperti Mohamed Ali Osman yang bermain untuk Khaitan SC di Kuwait. Sedangkan Mohamud memulai debutnya pada tahun 2015, pada saat kualifikasi Piala Dunia 2018 ronde pertama zona Afrika melawan Niger. Mohamud bermain pada leg kedua pertandingan tersebut yang berakhir dengan skor 2-0 bagi Niger dan agregat 5-0. Disamping bermain sepakbola, Mohamud juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai instruktor mengemudi di kota Manchester, Inggris. Mereka berdua tumbuh, besar, dan sempat mengawali karir sepakbola mereka di Belanda, hingga akhirnya mereka malang melintang di kompetisi tingkat non-league di Inggris dan bermain di kasta kedua liga Wales.
Pesan Damai Lewat Sepakbola dan Nasib Tim Nasional di Masa Sulit
![]() |
Elman Ali Ahmed, pengusaha dan aktivis perdamaian |
![]() |
Klub Sepakbola Elman (2014) |
Sepakbola juga dijadikan salah satu alat untuk menyampaikan pesan perdamaian. Pesan ini disampaikan lewat klub yang didirikan oleh seorang aktivis perdamaian yang bernama Elman Ali Ahmed. Beliau memiliki prinsip bahwa perdamaian bisa diwujudkan melalui "revolusi lewat olahraga yang tidak dapat dihentikan oleh siapapun". Melalui Elman FC, beliau berupaya keras untuk menciptakan sebuah cahaya ditengah ketidakpastian yang tengah dialami negara tercintanya, Somalia dengan cara merekrut pemain-pemain dari berbagai klan. Dari sini, pesan tersampaikan secara tersirat bahwa olahraga bisa menjadi penawar rasa lara ditengah masa sulit. Beliau meninggal dunia pada 9 Maret 1996 ketika beliau berniat untuk pindah ke luar negeri dan kini, Elman FC masih menjadi salah satu tim yang diperhitungkan di kompetisi domestik Somalia. Disamping itu, perjuangan mendiang untuk mewujudkan perdamaian tidak berhenti sampai disitu. Elman Peace and Human Rights Center yang dipimpin oleh salah satu putri beliau yaitu Ilwad Elman bersama dengan istrinya, Fartuun Adan melanjutkan perjuangan yang diperjuangkan oleh Elman. Disaat yang sama, Organisasi ini juga mengadvokasikan pemenuhan hak dasar bagi masyarakat, termasuk perempuan dalam hal kesehatan dan aspek lainnya.
Nasib tim nasional Somalia pada dekade itu, Somalia hanya bermain di kompetisi CECAFA pada tahun 1994, 1995, dan 1999. Dari ketiga partisipasi tersebut hanya membuahkan satu kemenangan, yaitu melawan Jibuti pada 1 Desember 1994 dalam lanjutan kompetisi Piala CECAFA 1994 di Nairobi, Kenya. Selama dekade tersebut, tidak ada satupun laga uji coba, dan tidak ada satupun laga kualifikasi tingkat Afrika dan dunia. Stadion Mogadishu yang dulunya menjadi panggung Bintang Samudera untuk mengarungi berbagai kompetisi, pada saat itu menjadi seperti markas militer. dan perlahan terlihat seperti terbengkalai karena keadaan sulit tersebut. Dengan ini, Somalia tidak bisa bermarkas di stadion nasional nya sendiri. Situasi ini membuat sepakbola Somalia dibayangi rasa ketidakpastian dikarenakan kondisi negara mereka yang semakin pelik.
Bertemu Raksasa Afrika, dan Kemenangan-Kemenangan Tipis di CECAFA
![]() |
Tim nasional Somalia sebelum menghadapi Kamerun |
Pada tahun 2000, Somalia bersua dengan salah satu kekuatan Benua Hitam, yaitu Kamerun pada ronde pertama Kualifikasi Piala Dunia 2002 zona Afrika. Somalia menjalani dua leg di kandang "Singa yang Tak Terkalahkan" karena Somalia masih terdampak perang sipil. Pada dua laga tersebut, Somalia takluk 0-3 lewat gol Patrick Mboma, Marc-Vivien Foé (1975-2003), dan Samuel Eto'o pada leg pertama, dan takluk dengan skor serupa lewat dwigol Robert Jama Mba dan Salomon Olembé. Tujuh bulan setelahnya, Somalia kembali lagi ke panggung CECAFA bersama dengan Jibuti, Ethiopia, Burundi, dan tim pelapis Uganda. Somalia hanya membuahkan satu poin dari skor kacamata melawan tetangga Somalia di bagian utara, Jibuti. Pada edisi setelahnya, Somalia kembali mendapatkan nasib yang sama dengan hasil imbang melawan Eritrea. Somalia kembali mencatatkan kemenangannya pada Piala CECAFA tahun 2002 berhadapan dengan Ethiopia dengan skor tipis 0-1.
Pada tahun berikutnya, Somalia hanya memainkan dua pertandingan saja, yaitu ronde pertama Kualifikasi Piala Dunia 2006 melawan raksasa Afrika lainnya, Ghana. Somalia menjalani laga kandang rasa tandang dan laga tandang di Accra dan Kumasi. Pertandingan pertama berakhir dengan skor 0-5 lewat dwigol Nana Arhin Duah dan Isaac Boakye, serta gol tunggal Asamoah Gyan. Tiga hari setelahnya, Dua gol tercipta di Kumasi lewat sepakan Stephen Appiah dan Lawrence Adjei dan membuat agregat Ghana semakin menjauh. Tiga edisi Piala CECAFA setelahnya, Somalia hanya membuahkan satu kemenangan tipis pada edisi 2005 melawan Jibuti dengan lagi-lagi skor tipis, 1-2. Paceklik poin diderita Somalia hampir 3 tahun dari lintas kompetisi sampai pada tanggal 23 Desember 2008 yang dimana ini adalah satu-satunya pertandingan Tim Nasional Somalia pada tahun tersebut. Tim Nasional Somalia kembali mengalahkan lawan yang dikalahkannya pada kemenangan terakhir dengan skor 2-3 di depan publik kota Jibuti pada uji coba menjelang Piala CECAFA 2009. Somalia kembali mencetak kemenangan mengejutkan pada tanggal 3 Januari 2009 melawan Tanzania lewat gol tunggal pemain binaan lokal yang bisa mencapai klub besar Tanzania, Malta, dan beberapa klub di Norwegia yang bernama Ciise Aden Abshir pada menit ke-14.
Bersambung ke bagian kedua










Comments
Post a Comment